Diberdayakan oleh Blogger.

ST. MIKAEL - PAROKI KRANJI - BEKASI BARAT

Selasa, 17 September 2019

Mulanya Biasa Saja, Akhirnya?

2 comments


Mencari pasutri di Paroki Kranji yang mau mengikuti kegiatan Kursus Pastoral Keluarga (KPK) angkatan kedua tidak semudah yang dibayangkan. Pendaftaran dibuka hari Minggu, 9 Juni. Namun hingga pekan pertama bulan Juli pasutri yang mendaftar masih di bawah angka sepuluh. Padahal kegiatan KPK akan dimulai 4 Agustus.

Romo Ansel pun dilaporkan perkembangannya. Romo Ansel berjanji akan meminta DPH Paroki untuk menyurati para Koordinator Wilayah dan Ketua Lingkungan. DPH mengirim surat. Namun sepekan kemudian, surat DPH belum membuahkan hasil. Panitia makin gelisah. Romo Ansel dan Romo Rido pun ikut mengawal. Selepas Misa Kedua hari Minggu, Romo Ansel dan Romo Rido rajin menyambangi stan KPK. Beberapa pasutri terkena OTT Romo Ansel dan Romo Rido. Mereka disuruh mendaftar. Kehadiran kedua Romo sangat membantu, meski belum memuaskan. Karena masih jauh dari target panitia.

Hingga pekan ketiga bulan Juli, pasutri yang mendaftar belum mencapai sepertiga  dari 50 pasutri yang ditargetkan. Namun pada awal Agustus, pasutri yang mendaftar semakin banyak. Ibarat main bola, rupanya gol penentu kemenangan tercipta di injury time. Alhasil hingga batas akhir pendaftaran pada Sabtu, 3 Agustus, pasutri yang mendaftar sebanyak 34 pasutri. Namun dua pasutri mengundurkan diri, karena alasan pribadi. Hasil ini cukup memuaskan. Meski masih jauh dari target. Tapi setidaknya lebih dari jumlah peserta KPK angkatan pertama, yang menggaet 29 pasutri. Rasa malu dan tekanan kegagalan yang dirasakan panitia pun terhapuskan.

Cerita behind the scece kerja panitia KPK 2 ini sengaja kami paparkan di sini untuk memberikan gambaran kepada umat, betapa sulit mengubah cara pandang kita terhadap sesuatu yang sudah berjalan setiap hari. Kursus Pastoral Keluarga itu apa sih? Apalagi sih yang mesti dipelajari di KPK, toh persoalan keluarga sudah tiap hari dialami dan digeluti? Itu pertanyaan yang kerap terlontar.

Jatuh Cinta

Ibarat lirik lagu Mulanya Biasa Saja, karya Pance Pondaag, yang dipopulerkan Meriam Bellina, seperti itu pula gambaran suasana batin para peserta terhadap kegiatan KPK. Dari biasa saja, lalu jatuh cinta. Setidaknya, ini pengakuan sejumlah pasutri. Robertus Sumadia, misalnya, mengaku sangat bersyukur dan beruntung mengikuti kegiatan KPK. “Untung aku ikut KPK! Bukan saja mendapat pencerahan dari narasumber, tapi masih berlanjut dengan artikel-artikel pendek di situs ini (website KPK 2),” kata Pak Madia, yang juga Ketua Lingkungan St. Matheus 3.

Yohanes Fadjar Lelono dari Lingkungan St. Markus 1 juga mengaku sangat merasakan manfaatnya mengikuti kegiatan KPK. “Yang tadinya saya pikir saya sudah cukup, karena saya dibaptis dari bayi, tetapi ternyata banyak hal yang saya tidak ketahui, dan saya dapatkan di sini,” ujar Pak Fadjar.

Menurut pasutri yang telah menikah 46 tahun ini, materi-materi yang diperolehnya dalam kegiatan KPK dapat diimplementasikan dalam kehidupan keluarga dan di Lingkungan. “Sebelum saya mengikuti sesi-sesi pelajaran di KPK ini, dulu saya Ketua Lingkungan, dan pernah beberapa kali menangani persoalan keluarga yang seperti ini. Ya, sedikitlah saya mengerti. Tapi dengan ilmu yang saya dapatkan di KPK ini, kelihatannya akan lebih mantap lagi untuk masa depan,” ungkap suami dari Maria Theresia Wahyuning Astuti.

Lain lagi pasutri muda Yustinus Adi Yulianto dan Sulistyaningsih dari Lingkungan St. Ignatius 3. Pasutri yang belum genap setahun menikah itu mengaku, mengikuti kegiatan KPK karena terdorong rasa ingin tahu, dan ke depannya bisa membantu orang lain. “Saya ke sini untuk melihat, ngapain sih. Karena masih muda, udahlah ikut ini. Nanti kalau ada yang membutuhkan bisa sharing dengan yang seusia,” kata Mas Adi.

Perbaiki Komunikasi

Manfaat langsung mengikuti kegiatan KPK yang paling dirasakan pasutri Adi-Sulis adalah soal komunikasi suami-istri. Pasutri yang menikah 1 Desember 2018 mengaku, ada persoalan kesenjangan komunikasi dalam rumah tangga mereka. “Biasanya itu kalau kita pulang kerja, saya nonton tv, dia main hp di kamar. Gak ada ngobrolnya. Terus nanti kalau tidur, dia sudah tidur, saya main hp,” ujar Mas Adi, yang disambung Mbak Sulis, “terus kalau lagi bete, diam-diaman. Gak ada  yang ngobrol.”

Mas Adi dan Mbak Sulis berjanji, sepulang dari kegiatan KPK, mereka akan memperbaiki kuantitas dan kualitas komunikasi yang selama ini terasa kurang. “Saya ingin berubah setelah acara ini. Saya akan lebih memperhatikan istri,” janji putra kedua dari Korwil St. Ignatius Pak Almateus Sukiran. Semoga. 

(nn)   

2 komentar:

  1. Tak kenal maka tak sayang, sebelum ikut KPK hidup sebagian menganggap dg usia perkawinan yg panjang otomatis sudah tahu segalanya ternyata sebaliknya, pengaruh TI sangat cepat membuat orang tua semakin ketinggalan zamam dan harus terus belajar mengubah mainset.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tidak dapat dipungkiri bahwa jaman berlari sangat cepat dan tidak memandang usia. Peran orang tua tentu sangat penting didalam keluarga.

      Sebagai orang tua yang memiliki anak-anak atau cucu yang lahir dan tumbuh di tengah pesatnya perkembangan teknologi, mau tak mau, Anda harus terus memperbarui kemampuan dan skill berteknologi.

      Menurut Lucian Teo, User Education and Outreach Manager, Google Asia Pacific, Teknologi diciptakan pasti untuk kebaikan. Dan sudah selayaknya anak-anak juga diizinkan untuk terlibat dalam perkembangan teknologi. Yang penting adalah untuk selalu menanamkan sikap-sikap positif sebagai orang tua. Bagaimana untuk memanfaatkan teknologi untuk kemajuan dan perkembangan pengetahuan anak-anak.

      Ajarkan anak-anak untuk memaksimalkan teknologi untuk hal-hal yang baik dan positif. Ingatkan untuk tidak berbagi informasi yang tidak penting dan selalu menghormati privasi orang lain. Dan yang penting, gunakan teknologi bersama-sama dengan anak agar Anda bisa tetap mengawasinya senantiasa.

      Seperti nama akun Anda, langkah kaki jangan berhenti untuk terus mewartakan kabar baik. Roma 10: 14-15, Betapa indahnya kaki mereka yang membawa kabar baik.
      Pada zaman Alkitab, satu-satunya cara untuk "membawa" kabar baik adalah membawanya secara fisik, berjalan dari satu tempat ke tempat lain. Kemajuan teknologi, telah membuka banyak saluran komunikasi tambahan, yang semuanya dapat kita gunakan untuk memperbesar kecepatan kita menyebarkan Firman Tuhan.

      Tuhan Yesus memberkati.

      Hapus

Created with by Rio Satriyo