Lidah adalah salah
satu dari panca indra manusia. Itu kita semua tahu dari pelajaran biologi di
sekolah. Tanpa lidah, tentu kita tidak dapat mengecap untuk membedakan rasa
makanan. Kita tidak dapat mengetahui enak atau tidaknya makanan itu. Atau kita
tak tahu lagi seperti apa rasa asin, asam, manis, pahit, dan hambar itu. Maka
ketika indra pengecap terganggu, kita buru-buru mencari dokter untuk
mengobatinya, agar tidak berefek buruk bagi kesehatan dan kemampuan mengecap
rasa makanan kita.
Selain
itu, lidah berperan sebagai pengatur lalu lintas makanan di mulut. Tanpa lidah,
makanan tidak dapat digerakkan ke kiri ke kanan, masuk ke tengah geraham untuk dikunyah, dan selanjutnya didorong
masuk ke kerongkongan.
Lidah juga berfungsi sebagai
alat bantu dalam berkomunikasi. Lidah adalah salah satu alat bantu untuk
melancarkan bicara, selain gigi dan bibir. Tanpa lidah, kita tidak dapat
menggerakkan kata. Bahkan ada beberapa huruf abjad yang pelafalannya harus
menggunakan lidah. Tanpa adanya lidah, kita kesulitan bicara. Dan masih ada
beberapa lagi fungsi lidah yang tidak dibahas di sini.
Karena itu, kita perlu menjaga
lidah, baik kesehatan maupun fungsinya, terutama perannya dalam menjaga
kehidupan kita. Ajakan menjaga lidah itu pula yang disampaikan Romo Fransiskus
Xaverius Lucas, SVD dalam homili misa pembukaan Retret Perutusan Kursus
Pastoral Keluarga (KPK) angkatan kedua Paroki Kranji di Wisma Samadi, Klender,
Sabtu (7/9). Menurut Romo Lucas, kita harus pandai menjaga lidah agar tidak mengucapkan
kata-kata yang merugikan, termasuk dalam menjaga keutuhan rumah tangga kita. “Kalau
sampai keluarkan kata cerai, itu karena lidahmu lemah. Lidahmu tak pernah
diperuntukkan bagi Tuhan seratus persen,” kata Romo Lucas.
Romo
Lucas juga menegaskan, Tuhan selalu meminta kita untuk menjaga lidah. Karena, lidah
manusia itu sulit dikendalikan. “Lidah kuda itu lebih mudah dikekang daripada
lidah manusia,” kata Romo Lucas lagi.
Menebar Racun
Dalam surat Yakobus digambarkan
dengan baik soal peran lidah ini. Yakobus mengatakan lidah itu seperti api,
yang bisa membakar hutan yang luas. Lidah itu buas, sulit dijinakkan, dan
mengandung racun yang mematikan. Dengan penggambaran seperti itu, Yakobus ingin
mengingatkan kita agar berhati-hati menggunakan lidah. Karena, lidah yang kecil
itu bisa membawa berkat dan juga petaka buat diri kita. Kata Yakobus, dengan
lidah kita memuji Tuhan, Bapa kita; dengan lidah kita mengutuk manusia yang
diciptakan menurut rupa Allah. Itu artinya, di ujung lidah ada berkat, juga
kutukan.
Dalam realitas kehidupan
sehari-hari begitu banyak orang yang terpleset karena lidah. Meski tak
dipungkiri banyak pula yang mendapat berkat. Masih segar dalam ingatan kita, kasus
yang menghebohkan negeri ini pada tahun 2017 silam. Ketika itu Gubernur DKI
Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok harus menghadapi tekanan gelombang massa
lewat demo berjilid-jilid, dan akhirnya berurusan dengan hukum, yang juga penuh
intimidasi mahahebat massa pendemo. Itu semua,
tak lain, karena Ahok lalai
menjaga lidahnya. Karena lidahnya itu Ahok menjadi penghuni Lapas Mako
Brimob Kelapa Dua selama beberapa tahun. Yang lebih serius lagi, bahkan
dampaknya meluas, karena lidah itu pula keterbelahan bernuansa agama di tengah
masyarakat kita kian mengeras dan melebar.
Begitu pula dalam bangunan
kehidupan sosial di paroki kita. Lidah dapat mengambil peran penting dalam
merekatkan hubungan antarpribadi. Namun lidah yang sama dapat pula menjarakkan hubungan
sosial seseorang dari yang lainnya. Atau dalam skala yang lebih kecil, soal
hubungan suami-istri dan orangtua-anak dalam suatu keluarga. Kehancuran
hubungan suami-istri dan orangtua-anak kerapkali bermula dari lidah. Lidah anggota
keluarga tidak dapat mengkomunikasikan kata-kata yang baik dan penuh berkat,
yang mengalirkan kesejukan bagi pendengarnya. Bila lidah kerap melontarkan kata-kata
kutukan, sumpah serapah, maka hancurlah kehidupan rumah tangga itu.
Merawat Lidah
Merawat kesehatan fisik lidah,
mudah saja. Cukup berkumur dengan air garam, lidah dijamin bersih dan sehat.
Namun bagaimana menjaga kesehatan dan kebersihan lidah dari kata-kata sampah, yang
merusak dan menghancurkan kehidupan ketika memainkan fungsi komunikasinya, itu
yang sulit. Karena itu lidah perlu dirawat dan dijinakkan dengan selalu
mengucapkan kata-kata yang baik, dan seperti kata Romo Lucas, digunakan seratus
persen untuk memuliakan Tuhan.
Bila
lidah kita mendapat asupan kata-kata yang baik, positif, dan konstruktif serta
senantiasa memuliakan Tuhan, niscaya akan menjauhkan diri kita dari petaka karena
lidah. Kita juga tak perlu khawatir lagi, lidah bisa menabung dosa, seperti
kata Yakobus. (nn)

