Diberdayakan oleh Blogger.

ST. MIKAEL - PAROKI KRANJI - BEKASI BARAT

Minggu, 29 September 2019

Pandai Menjaga Lidah

0 comments



Lidah adalah salah satu dari panca indra manusia. Itu kita semua tahu dari pelajaran biologi di sekolah. Tanpa lidah, tentu kita tidak dapat mengecap untuk membedakan rasa makanan. Kita tidak dapat mengetahui enak atau tidaknya makanan itu. Atau kita tak tahu lagi seperti apa rasa asin, asam, manis, pahit, dan hambar itu. Maka ketika indra pengecap terganggu, kita buru-buru mencari dokter untuk mengobatinya, agar tidak berefek buruk bagi kesehatan dan kemampuan mengecap rasa makanan kita.

Selain itu, lidah berperan sebagai pengatur lalu lintas makanan di mulut. Tanpa lidah, makanan tidak dapat digerakkan ke kiri ke kanan, masuk ke tengah geraham  untuk dikunyah, dan selanjutnya didorong masuk ke kerongkongan.

Lidah juga berfungsi sebagai alat bantu dalam berkomunikasi. Lidah adalah salah satu alat bantu untuk melancarkan bicara, selain gigi dan bibir. Tanpa lidah, kita tidak dapat menggerakkan kata. Bahkan ada beberapa huruf abjad yang pelafalannya harus menggunakan lidah. Tanpa adanya lidah, kita kesulitan bicara. Dan masih ada beberapa lagi fungsi lidah yang tidak dibahas di sini.

Karena itu, kita perlu menjaga lidah, baik kesehatan maupun fungsinya, terutama perannya dalam menjaga kehidupan kita. Ajakan menjaga lidah itu pula yang disampaikan Romo Fransiskus Xaverius Lucas, SVD dalam homili misa pembukaan Retret Perutusan Kursus Pastoral Keluarga (KPK) angkatan kedua Paroki Kranji di Wisma Samadi, Klender, Sabtu (7/9). Menurut Romo Lucas, kita harus pandai menjaga lidah agar tidak mengucapkan kata-kata yang merugikan, termasuk dalam menjaga keutuhan rumah tangga kita. “Kalau sampai keluarkan kata cerai, itu karena lidahmu lemah. Lidahmu tak pernah diperuntukkan bagi Tuhan seratus persen,” kata Romo Lucas.

Romo Lucas juga menegaskan, Tuhan selalu meminta kita untuk menjaga lidah. Karena, lidah manusia itu sulit dikendalikan. “Lidah kuda itu lebih mudah dikekang daripada lidah manusia,” kata Romo Lucas lagi.

Menebar Racun
Dalam surat Yakobus digambarkan dengan baik soal peran lidah ini. Yakobus mengatakan lidah itu seperti api, yang bisa membakar hutan yang luas. Lidah itu buas, sulit dijinakkan, dan mengandung racun yang mematikan. Dengan penggambaran seperti itu, Yakobus ingin mengingatkan kita agar berhati-hati menggunakan lidah. Karena, lidah yang kecil itu bisa membawa berkat dan juga petaka buat diri kita. Kata Yakobus, dengan lidah kita memuji Tuhan, Bapa kita; dengan lidah kita mengutuk manusia yang diciptakan menurut rupa Allah. Itu artinya, di ujung lidah ada berkat, juga kutukan.

Dalam realitas kehidupan sehari-hari begitu banyak orang yang terpleset karena lidah. Meski tak dipungkiri banyak pula yang mendapat berkat. Masih segar dalam ingatan kita, kasus yang menghebohkan negeri ini pada tahun 2017 silam. Ketika itu Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok harus menghadapi tekanan gelombang massa lewat demo berjilid-jilid, dan akhirnya berurusan dengan hukum, yang juga penuh intimidasi mahahebat massa pendemo. Itu semua,  tak lain, karena Ahok lalai  menjaga lidahnya. Karena lidahnya itu Ahok menjadi penghuni Lapas Mako Brimob Kelapa Dua selama beberapa tahun. Yang lebih serius lagi, bahkan dampaknya meluas, karena lidah itu pula keterbelahan bernuansa agama di tengah masyarakat kita kian mengeras dan melebar.

Begitu pula dalam bangunan kehidupan sosial di paroki kita. Lidah dapat mengambil peran penting dalam merekatkan hubungan antarpribadi. Namun lidah yang sama dapat pula menjarakkan hubungan sosial seseorang dari yang lainnya. Atau dalam skala yang lebih kecil, soal hubungan suami-istri dan orangtua-anak dalam suatu keluarga. Kehancuran hubungan suami-istri dan orangtua-anak kerapkali bermula dari lidah. Lidah anggota keluarga tidak dapat mengkomunikasikan kata-kata yang baik dan penuh berkat, yang mengalirkan kesejukan bagi pendengarnya. Bila lidah kerap melontarkan kata-kata kutukan, sumpah serapah, maka hancurlah kehidupan rumah tangga itu.

Merawat Lidah
Merawat kesehatan fisik lidah, mudah saja. Cukup berkumur dengan air garam, lidah dijamin bersih dan sehat. Namun bagaimana menjaga kesehatan dan kebersihan lidah dari kata-kata sampah, yang merusak dan menghancurkan kehidupan ketika memainkan fungsi komunikasinya, itu yang sulit. Karena itu lidah perlu dirawat dan dijinakkan dengan selalu mengucapkan kata-kata yang baik, dan seperti kata Romo Lucas, digunakan seratus persen untuk memuliakan Tuhan.

Bila lidah kita mendapat asupan kata-kata yang baik, positif, dan konstruktif serta senantiasa memuliakan Tuhan, niscaya akan menjauhkan diri kita dari petaka karena lidah. Kita juga tak perlu khawatir lagi, lidah bisa menabung dosa, seperti kata Yakobus. (nn)    

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Created with by Rio Satriyo