Diberdayakan oleh Blogger.

ST. MIKAEL - PAROKI KRANJI - BEKASI BARAT

Senin, 09 September 2019

Aku Katolik, Maka Aku Ada

2 comments
Gambar terkait
Filsuf Perancis abad ke-16 Rene Descartes berujar, cogito ergo sum, aku berpikir, maka aku ada. Kita tidak perlu bersoal jawab apa makna sesungguhnya dari buah pikiran filsuf yang dikenal sebagai Bapak Filsafat Modern itu. Itu urusan para filsuf dan kaum cendekia. Tapi, setidaknya Descartes menyampaikan pesan penting kepada kita bahwa eksistensi seseorang ditentukan oleh hasil olah pikirnya, bukan hal lain. Kalau dia tidak atau berhenti berpikir, maka dia bukan siapa-siapa lagi, eksistensinya hilang. Era Descartes pun dikenal sebagai zaman rasionalitas, yang mengandalkan kegiatan olah pikir dan kekuatan rasio dalam menggerakkan banyak hal.

Maka ketika itu bermunculan para pemikir besar, sebut saja, di antaranya Descartes sendiri, Hobbes, Caterus, dan Spinoza. Mereka adalah orang-orang yang menjadikan kekuatan berpikir sebagai penegas eksistensi. Aku berpikir, maka aku ada, itulah landasan hidup mereka. Karena dengan daya pikir yang baik, segala sesuatu pun bisa dipertanggungjawabkan. Bukan asal bunyi. Atau bahasa anak-anak milenial, asal pencet.

Berbeda dengan zaman sekarang, kata Romo Purbo Tamtomo, Pr kepada para peserta KPK angkatan kedua Paroki Kranji Santo Mikael, di Aula SMP Strada Bhaktiwiyata, Minggu (25/8). Sekarang ini eksistensi seseorang tidak ditentukan oleh sesuatu yang bermutu. Tampaknya sudah mewabah semangat, aku belanja, maka aku ada atau aku kuliner, maka aku ada. Orang menandai jati dirinya dengan kegiatan berbelanja dan berkuliner. “Ke mana-mana aku belanja, pamer di profile atau instagram, untuk membuktikan aku itu eksis. Tandane aku eksis, belonjo. Itulah orang zaman sekarang. Ada yang lain, aku eksis, kalau aku itu, misalnya saja kuliner di mana-mana. Hanya perjalanan dari Jakarta ke Jawa Tengah, sempat mampir bersama rekan-rekan delapan tempat bisa makan. Cerita, aku eksis, karena aku tukang jajan.”

Apakah salah orang berbelanja atau berkuliner? Tentu saja, tidak. Lagipula itu hak asasi siapa saja. Namun poin penting dari sentilan Romo Purbo, agar sebagai orang Katolik, kita memperlihatkan hal-hal yang lebih bermutu dan bermuatan nilai-nilai kristiani untuk menunjukkan eksistensi diri kita. Bukan (maaf) hal-hal yang remeh-temeh seperti berbelanja dan berkuliner. Berbelanja dan berkuliner itu juga penting. Tapi, itu bukan hal terpenting yang menunjukkan jati diri kita.

Perlu Orientasi Jelas

Menurut Romo Purbo, sekarang ini banyak paham dan orientasi yang tidak jelas, karena zamannya adalah zaman sesudah kebenaran (post-truth). Post-truth dapat didefenisikan sebagai kondisi atau situasi di mana pengaruh ketertarikan emosional dan kepercayaan pribadi lebih tinggi dibandingkan fakta dan data objektif dalam membentuk opini publik. Maka kalau sekarang ini, muncul kebohongan di mana-mana, itu karena zaman post-truth. “Zaman sesudah kebenaran artinya bohong. Karena itu, banyak orang sekarang yang merasa tidak penting mengenai kebenaran. Yang penting punya keyakinan sendiri, termasuk bohong,” ujar Romo Purbo.

Sekarang ini, kata Romo Purbo, harus berani membuat keyakinan, aku ini orang Katolik, maka aku ada. Sehingga itu menjadi sebuah kekuatan. Kalau tidak, jadi tidak jelas. Orang bohong di mana-mana malah diteruskan. Karena dengan bohong, ia merasa eksis. “Ibu Bapak betapa pentingnya orientasi yang jelas di tengah-tengah hiruk pikuk nilai yang tidak jelas. Kalau di tengah ketidakjelasan ini aku membangun landasan hidupku tidak jelas, apalagi aneh, apalagi tidak bermutu, perjalananku ke depan juga tidak bermutu.”

Identitas Katolik

Sebagai orang katolik, kita penting menunjukkan identintas kekatolikan dengan cara, di antaranya menjaga kerukunan dengan sesama, selalu bergembira, ramah-tamah, dan senantiasa mengedepankan kasih. Karena Yesus setelah menderita mendoakan kita: Aku berdoa kepadaMu agar mereka bersatu dalam kasih. Melalui persatuan dalam kasih menandakan mereka murid-muridKu. “Maka tidak usah pintar, tanda salib di mana-mana, jagoan apa-apa. Tanda bahwa aku murid Tuhan, hidup persaudaraan dalam kasih. Aku eksis, karena aku hidup bersahabat dengan yang lain. Kalau itu ada, mau ganti profile 20 kali sehari, gak jadi soal. Tapi kalau ini ganti terus, hidupnya gak jelas, kasihan orang itu. Nanti orientasi hidupnya gak jelas,” kata Romo Purbo.

Romo Purbo berharap, spirit “aku orang Katolik, maka aku ada,” perlu dijadikan kekuatan, agar jati diri kita menjadi lebih jelas. Dan hendaknya martabat luhur perkawinan dijadikan profile picture setiap orang Katolik yang membangun rumah tangga, bukan berbelanja atau berkuliner. Karena orientasi hidup yang jelas itu  amat penting, terutama bagi kita, para murid Kristus. (nn)   

2 komentar:

  1. Untung aku ikut KPK! Bukan saja mendapat pencerahan dari para narasumber. Tapi masih berlanjut dengan artikel2 pendek di situs ini, yang mengingatkan kembali pencerahan itu untuk terus dioermenungkan. Terima kasih nn, terima kasih Panitia KPK2, up. Mas Rio.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih Bapak :)
      Dengan adanya artikel2 ini, kami menjaga supaya KPK ini tidak menguap begitu saja.
      Semoga blog ini bisa menjadi media pewartaan dan mengenalkan KPK di lingkungan bapak.
      Berkah dalem

      Hapus

Created with by Rio Satriyo