
Filsuf Perancis
abad ke-16 Rene Descartes berujar, cogito
ergo sum, aku berpikir, maka aku ada. Kita tidak perlu bersoal jawab apa
makna sesungguhnya dari buah pikiran filsuf yang dikenal sebagai Bapak Filsafat
Modern itu. Itu urusan para filsuf dan kaum cendekia. Tapi, setidaknya Descartes
menyampaikan pesan penting kepada kita bahwa eksistensi seseorang ditentukan
oleh hasil olah pikirnya, bukan hal lain. Kalau dia tidak atau berhenti
berpikir, maka dia bukan siapa-siapa lagi, eksistensinya hilang. Era Descartes
pun dikenal sebagai zaman rasionalitas, yang mengandalkan kegiatan olah pikir
dan kekuatan rasio dalam menggerakkan banyak hal.
Maka
ketika itu bermunculan para pemikir besar, sebut saja, di antaranya Descartes
sendiri, Hobbes, Caterus, dan Spinoza. Mereka adalah orang-orang yang menjadikan
kekuatan berpikir sebagai penegas eksistensi. Aku berpikir, maka aku ada,
itulah landasan hidup mereka. Karena dengan daya pikir yang baik, segala
sesuatu pun bisa dipertanggungjawabkan. Bukan asal bunyi. Atau bahasa anak-anak
milenial, asal pencet.
Berbeda dengan zaman sekarang,
kata Romo Purbo Tamtomo, Pr kepada para peserta KPK angkatan kedua Paroki
Kranji Santo Mikael, di Aula SMP Strada Bhaktiwiyata, Minggu (25/8). Sekarang
ini eksistensi seseorang tidak ditentukan oleh sesuatu yang bermutu. Tampaknya sudah
mewabah semangat, aku belanja, maka aku ada atau aku kuliner, maka aku ada.
Orang menandai jati dirinya dengan kegiatan berbelanja dan berkuliner. “Ke
mana-mana aku belanja, pamer di profile
atau instagram, untuk membuktikan aku itu eksis. Tandane aku eksis, belonjo.
Itulah orang zaman sekarang. Ada yang lain, aku eksis, kalau aku itu, misalnya
saja kuliner di mana-mana. Hanya perjalanan dari Jakarta ke Jawa Tengah, sempat
mampir bersama rekan-rekan delapan tempat bisa makan. Cerita, aku eksis, karena
aku tukang jajan.”
Apakah salah orang berbelanja
atau berkuliner? Tentu saja, tidak. Lagipula itu hak asasi siapa saja. Namun poin
penting dari sentilan Romo Purbo, agar sebagai orang Katolik, kita
memperlihatkan hal-hal yang lebih bermutu dan bermuatan nilai-nilai kristiani
untuk menunjukkan eksistensi diri kita. Bukan (maaf) hal-hal yang remeh-temeh
seperti berbelanja dan berkuliner. Berbelanja dan berkuliner itu juga penting.
Tapi, itu bukan hal terpenting yang menunjukkan jati diri kita.
Perlu Orientasi Jelas
Menurut Romo Purbo, sekarang ini
banyak paham dan orientasi yang tidak jelas, karena zamannya adalah zaman
sesudah kebenaran (post-truth). Post-truth dapat didefenisikan sebagai
kondisi atau situasi di mana pengaruh ketertarikan emosional dan kepercayaan
pribadi lebih tinggi dibandingkan fakta dan data objektif dalam membentuk opini
publik. Maka kalau sekarang ini, muncul kebohongan di mana-mana, itu karena
zaman post-truth. “Zaman sesudah
kebenaran artinya bohong. Karena itu, banyak orang sekarang yang merasa tidak
penting mengenai kebenaran. Yang penting punya keyakinan sendiri, termasuk
bohong,” ujar Romo Purbo.
Sekarang ini, kata Romo Purbo,
harus berani membuat keyakinan, aku ini orang Katolik, maka aku ada. Sehingga
itu menjadi sebuah kekuatan. Kalau tidak, jadi tidak jelas. Orang bohong di
mana-mana malah diteruskan. Karena dengan bohong, ia merasa eksis. “Ibu Bapak
betapa pentingnya orientasi yang jelas di tengah-tengah hiruk pikuk nilai yang
tidak jelas. Kalau di tengah ketidakjelasan ini aku membangun landasan hidupku
tidak jelas, apalagi aneh, apalagi tidak bermutu, perjalananku ke depan juga
tidak bermutu.”
Identitas Katolik
Sebagai orang katolik, kita
penting menunjukkan identintas kekatolikan dengan cara, di antaranya menjaga
kerukunan dengan sesama, selalu bergembira, ramah-tamah, dan senantiasa mengedepankan
kasih. Karena Yesus setelah menderita mendoakan kita: Aku berdoa kepadaMu agar mereka bersatu dalam kasih. Melalui persatuan
dalam kasih menandakan mereka murid-muridKu. “Maka tidak usah pintar, tanda
salib di mana-mana, jagoan apa-apa. Tanda bahwa aku murid Tuhan, hidup
persaudaraan dalam kasih. Aku eksis, karena aku hidup bersahabat dengan yang
lain. Kalau itu ada, mau ganti profile
20 kali sehari, gak jadi soal. Tapi kalau ini ganti terus, hidupnya gak jelas,
kasihan orang itu. Nanti orientasi hidupnya gak jelas,” kata Romo Purbo.
Romo Purbo berharap, spirit “aku orang Katolik, maka aku ada,” perlu dijadikan kekuatan, agar jati diri kita menjadi lebih jelas. Dan hendaknya martabat luhur perkawinan dijadikan profile picture setiap orang Katolik yang membangun rumah tangga, bukan berbelanja atau berkuliner. Karena orientasi hidup yang jelas itu amat penting, terutama bagi kita, para murid Kristus. (nn)

Untung aku ikut KPK! Bukan saja mendapat pencerahan dari para narasumber. Tapi masih berlanjut dengan artikel2 pendek di situs ini, yang mengingatkan kembali pencerahan itu untuk terus dioermenungkan. Terima kasih nn, terima kasih Panitia KPK2, up. Mas Rio.
BalasHapusTerima kasih Bapak :)
HapusDengan adanya artikel2 ini, kami menjaga supaya KPK ini tidak menguap begitu saja.
Semoga blog ini bisa menjadi media pewartaan dan mengenalkan KPK di lingkungan bapak.
Berkah dalem