Manusia tidak
pernah lepas dari persoalan. Persolan itu muncul dalam beragam rupa. Apalagi di
jaman now, kepungan persoalan kian hebat dan membutuhkan penanganan serius.
Persoalan makin banyak lagi ketika sudah berumah tangga. Ada persoalan ekonomi,
pola asuh anak, komunikasi suami-istri, membangun hubungan sosial dengan orang
lain hingga soal meletakkan pondasi iman bagi anak. Rumah tangga pasutri Katolik
pun tak luput dari serbuan masalah-masalah seperti itu.
Ada persoalan yang mudah diatasi
sendiri. Namun ada pula yang membutuhkan kehadiran dan sentuhan pihak lain,
semisal psikolog, teman atau Romo, Korwil, dan Ketua Lingkungan dalam rumah
tangga Katolik. “Kalau umat ada masalah, pertama kali ia datang kepada Ketua
Lingkungan, kepada Ketua Wilayah. Maka ketika sampai ke Ketua Wilayah, Ketua
Lingkungan, mereka bisa memberikan solusi, mereka bisa menjadi pendengar yang
baik, dan akhirnya tidak perlu sampai ke Romo,” kata Skolastika Lupi Adriati di
hadapan peserta Kursus Pastoral Keluarga (KPK) angkatan kedua Paroki Kranji
Santo Mikael, di Aula SMP Strada Bhaktiwiyata, Minggu (1/9).
Menurut Bu Lupi, itulah pentingnya
para fungsionaris seperti Ketua Lingkungan, Koordinator Wilayah, dan lain-lain
diberi pelatihan konseling. Karena kita semua dipanggil untuk membantu orang
lain dalam pelayanan dan doa sebagai konsekuensi mengikuti Yesus. “Kita
menjumpai Yesus yang hidup dengan melayani, termasuk membantu mengatasi
persoalan umat di lingkungan masing-masing,”
kata psikolog dari Paroki Santo Arnoldus Bekasi itu.
Pendampingan Dengan Hati
Pendampingan umat yang
bermasalah harus dilakukan dengan tulus dan sepenuh hati, bukan asal-asalan.
Karena tujuan kita mendampingi umat tersebut untuk membantu dia mengatasi atau
keluar dari masalah yang dihadapinya. Pendampingan dengan hati mempunyai fungsi
menyembuhkan.
Pendampingan dengan hati dapat
membangkitkan potensi-potensi dalam diri orang yang didampingi, sehingga
mempunyai harapan untuk bergerak maju. Pendampingan dengan hati juga adalah
penemanan, sehingga orang yang sedang
menderita tidak merasa sendirian dan diringankan beban psikisnya. “Biar
dia tau kok ada orang lain yang mengerti tentang aku, orang lain paham akan
masalahku,” ujar istri Domitianus Suprianto.
Bu Lupi juga mengajak para
peserta KPK agar tidak takut mendampingi orang lain yang mendapat persoalan
hidup di lingkungan masing-masing. Yang penting langkah pertama, kata Bu Lupi, kita
hadir secara fisik dan psikis untuk mereka yang bermasalah. Artinya, kita
mendengarkan secara aktif, mendengarkan dengan penuh perhatian. “Jadi ketika
orang bermasalah, Ibu Bapak ada, mendengarkan. Kalau ada umatnya bermasalah,
ada temannya datang. Itu yang penting. Dengarkan dengan penuh perhatian. Jadi,
dia merasa dirinya diringankan.”
Bu Lupi menambahkan,
mendengarkan dan hadir itu penting artinya bagi umat yang mendapat masalah.
Karena dengan kita hadir dan mendengarkan, dia tidak merasa sendirian
menghadapi persoalan hidupnya. “Kalau
kita memberikan telinga, itu masalah dia 70 persen, bahkan 80 persen selesai.”
Selepas santapan siang, Bu Lupi
membuka pertemuan dengan menyanyikan lagi “KasihNya Seperti Sungai.” Para
peserta KPK pun terlihat sangat menikmati lagu itu, sambil bergoyang mengikuti
gerak yang dipandu Bu Lupi.
Setelah disegarkan dengan lagu,
Bu Lupi membagi para peserta menjadi sembilan kelompok berisi enam orang.
Kemudian para peserta disuruh bermain peran, yakni dua orang sebagai pendamping
(konselor) dan dua orang yang didampingi atau orang mempunyai masalah
(konseli). Sementara dua lainnya bertugas sebagai pengamat, yang akan mengamati
seluruh proses pendampingan, mulai dari bagaimana membuka pertemuan, dialog,
hingga hasil pendampingan. Pengamat juga mencatat seluruh alur pendampingan dan
dipresentasikan dalam rapat pleno.
Praktik konseling ternyata
mengasyikkan. Para konselor dan konseli asyik ngobrol. Sesekali terdengar tawa
di setiap kelompok. Sementara para pengamat serius mencatat. Bu Lupi pun
berkeliling dari satu kelompok ke kelompok lainnya mengamati keseluruhan proses
pendampingan.
Setelah batas waktu berakhir, Bu
Lupi memberikan catatan penilaian. Dari catatan Bu Lupi disimpulkan, para
konselor kurang menggali informasi dari konseli, sehingga kurang tepat
menyelesaikan persoalan yang dihadapi konseli. Selain itu, para konselor juga
masih terlalu dominan berbicara, dan cenderung menasihati konseli. Padahal,
menurut Bu Lupi, konselor yang baik itu lebih banyak mendengar, dan sesekali
bertanya untuk menggali persoalan konseli.
Saking asyiknya sesi praktik
konseling ini tak terasa waktu sudah merayap menuju pukul 15.00 WIB, satu jam
melewati waktu yang ditetapkan panitia. Meski demikian, semua merasa puas dan pulang
membawa keceriaan. (nn)


