Diberdayakan oleh Blogger.

ST. MIKAEL - PAROKI KRANJI - BEKASI BARAT

Rabu, 04 Desember 2019

Kursus Pastoral Kelurga Virus Penyebar Semangat

0 comments

Hasil gambar untuk chatolic family worship gif"
Ada rupa-rupa cerita para peserta Kursus Pastoral Keluarga (KPK) 2 selepas Retret Perutusan (Retus) di Wisma Samadi, Klender, di awal September lalu. Cerita-cerita itu terungkap dalam acara silaturahmi peserta KPK 2 di Gedung GKP Lantai 2, Minggu (24/11). Diakui, ada hal yang beda setelah mengikuti acara KPK tersebut. Margaretha Sri Hastuti misalnya. Bu Margaretha bercerita, setelah mengikuti kegiatan KPK, banyak sekali perubahan yang ia rasakan. Misalnya, ada perbaikan komunikasi dengan suami yang sebelumnya agak kurang, karena jarang bertemu. “Beliau pulang selalu malam, saya sudah tidur. Tiap hari seperti itu. Tapi pada saat ini Beliau menyempatkan diri menyapa saya di tengah pekerjaan. Kalau siang hari menyapa saya, sudah makan belum. Kalau di rumah suka bercanda. Setelah ikut KPK, setiap hari bisa tiga kali Beliau WA ke saya,” tutur umat Lingkungan St. Gregorius 1 itu.

Perubahan lain, kata Bu Margaretha, suaminya mengizinkan dia untuk melakukan pelayanan di luar rumah seperti di Lingkungan, Legio Maria, dan WKRI. Selain itu, suaminya mulai aktif di Lingkungan. “Terus terang selama ini saya kurang aktif, baik di Lingkungan maupun Wilayah,” ujar Bu Margaretha.

Penuturan Bu Margaretha tak berbeda dengan cerita pasutri RB Santo-Mieke. Menurut Bu Mieke, setelah ikut kegiatan KPK ia bergairah untuk aktif kembali dalam kegiatan di Lingkungan dan Wilayah. “Saya beruntung ikut KPK. Ada satu gerakan, ada satu gairah untuk saya lebih aktif lagi.”
Bu Mieke juga mengaku, ia termotivasi untuk hidup lebih baik. Cerita Bu Mieke diamini suaminya, Pak Santo. “Setelah ikut KPK, ada perubahan,” tambah pengurus Santo Yusuf Paroki Kranji itu.

Lain lagi cerita pasutri Christoforus Aries Basanggu-Irene Hanimurty dari Lingkungan St. Gregorius 3. Setelah mengikuti KPK, pasutri Aries-Ririn mengaku lebih berani untuk tampil menjadi pemandu dalam kegiatan di Lingkungan. Mas Aries dan Mbak Ririn juga sangat terkesan selama mengikuti Retus di Wisma Samadi. “Kami berharap, saat KPK ketiga, Retusnya dipanjangin lagi kali ya. Mungkin sampai tiga hari,” harap Mas Aries, bersemangat.

Pasutri termuda KPK 2, Mikhael Angelo Stevano-Agnes Olivia dari Lingkungan St. Vincentius 6 juga merasakan manfaat mengikuti KPK, terutama menyangkut hal mengubah kebiasaan yang menyita waktu dan mengganggu komunikasi suami-istri. “Dulu ketika kami awal-awal menikah, istri suka komplain, karena saya terlalu sibuk dengan main game. Tapi setelah mengikuti KPK 2, istri juga bilang sendiri ke saya, kalau saya main game-nya sudah mulai berkurang. Agak jarang mainnya kalau di rumah,” ujar pria asal Mataloko, Flores, yang juga menjadi Ketua Panitia KPK 3.

Mbak Oliv sepakat dengan cerita suaminya. “Awal-awal nikah, komunikasi kurang, karena dia lebih banyak main game. Kita ngobrol aja itu jarang gitu. Jadi, lebih banyak saya ngedumel, kok main game terus,” kisah Mbak Oliv.   



Semangat Berbagi Ilmu


Semangat membagi ilmu yang diperoleh selama mengikuti KPK 2 diperlihatkan Korwil Perumnas I & BSK St. Bernadeth,  Sirilus Sirjoni Simangunsong. Pak Sirjoni langsung tancap gas. Hanya tiga bulan usai kegiatan KPK 2, Pak Sirjoni sudah selesai menyusun rencana Rekoleksi Keluarga Wilayah St. Bernadeth pada Mei 2020 di Wisma SVD, Cisarua, Bogor, dengan target peserta 75 pasutri. “Masih  ada program lain yang kini tengah dirancang di Wilayah Bernadeth, yang tergerak oleh semangat KPK,” kata Pak Anton Srimulyono, mewakili Pak Sirjoni.

Semangat berbagi ilmu juga ditunjukkan Bung Meke dan Mbak Oliv. Pasutri ini sudah memanfaatkan ilmu yang diperoleh di KPK untuk membantu sejumlah teman mereka. “Saya sudah memanfaatkannya untuk teman-teman satu tongkrongan,” ujar Bung Meke.

Pasutri Robertus Sumadia-Sylvia Sri Redjeki dari Lingkungan St. Matheus 3 justru langsung menghadapi persoalan pelik pasca-mengikuti KPK 2. Persoalan itu menyangkut rumah tangga umat di Lingkungan mereka  yang terancam keutuhannya, setelah perselingkuhan yang dilakukan suami terungkap. Namun Pak Madia dan Bu Sylvia mengaku masih kesulitan, karena keluarga tersebut belum terbuka. Seperti kata Pak Anastasius Wahyuhadi, mungkin saja pasutri tersebut belum nyaman untuk curhat, karena belum sepenuhnya trust.

Cerita berbeda disampaikan pasutri Vincentius Simangunsong-Ester Sondang Pakpahan dari Lingkungan St. Bernadeth 5. Pak Vinsen dan Bu Ester mengaku, ilmu yang didapat di KPK baru dipergunakan untuk kepentingan internal keluarga. “Saya ini kan masih berobat jalan. Boro-boro mengobati yang lain. Istri saya saja, belum saya obati,” canda Pak Vinsen, merendah.

Apapun cerita dan pengalaman para pasutri setelah mengikuti KPK 2, hal yang paling penting, kata Romo Ansel, agar suami - istri selalu menjaga kesetiaan, "Keluarga yang diberkati adalah keluarga dimana suami setia kepada istri, Dan juga istri setia kepada suami," pesan Romo Ansel, mengakhiri peneguhannya.
(nn).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Created with by Rio Satriyo