
Perubahan lain,
kata Bu Margaretha, suaminya mengizinkan dia untuk melakukan pelayanan di luar
rumah seperti di Lingkungan, Legio Maria, dan WKRI. Selain itu, suaminya mulai
aktif di Lingkungan. “Terus terang selama ini saya kurang aktif, baik di
Lingkungan maupun Wilayah,” ujar Bu Margaretha.
Penuturan Bu
Margaretha tak berbeda dengan cerita pasutri RB Santo-Mieke. Menurut Bu Mieke,
setelah ikut kegiatan KPK ia bergairah untuk aktif kembali dalam kegiatan di
Lingkungan dan Wilayah. “Saya beruntung ikut KPK. Ada satu gerakan, ada satu
gairah untuk saya lebih aktif lagi.”
Bu Mieke juga mengaku, ia termotivasi untuk hidup
lebih baik. Cerita Bu Mieke diamini suaminya, Pak Santo. “Setelah ikut KPK, ada
perubahan,” tambah pengurus Santo Yusuf Paroki Kranji itu.
Lain lagi cerita
pasutri Christoforus Aries Basanggu-Irene Hanimurty dari Lingkungan St.
Gregorius 3. Setelah mengikuti KPK, pasutri Aries-Ririn mengaku lebih berani
untuk tampil menjadi pemandu dalam kegiatan di Lingkungan. Mas Aries dan Mbak
Ririn juga sangat terkesan selama mengikuti Retus di Wisma Samadi. “Kami
berharap, saat KPK ketiga, Retusnya dipanjangin lagi kali ya. Mungkin sampai
tiga hari,” harap Mas Aries, bersemangat.
Pasutri termuda KPK
2, Mikhael Angelo Stevano-Agnes Olivia dari Lingkungan St. Vincentius 6 juga
merasakan manfaat mengikuti KPK, terutama menyangkut hal mengubah kebiasaan
yang menyita waktu dan mengganggu komunikasi suami-istri. “Dulu ketika kami
awal-awal menikah, istri suka komplain, karena saya terlalu sibuk dengan main game. Tapi setelah mengikuti KPK 2,
istri juga bilang sendiri ke saya, kalau saya main game-nya sudah mulai berkurang. Agak jarang mainnya kalau di
rumah,” ujar pria asal Mataloko, Flores, yang juga menjadi Ketua Panitia KPK 3.
Mbak Oliv sepakat
dengan cerita suaminya. “Awal-awal nikah, komunikasi kurang, karena dia lebih
banyak main game. Kita ngobrol aja
itu jarang gitu. Jadi, lebih banyak saya ngedumel,
kok main game terus,” kisah Mbak
Oliv.
Semangat Berbagi Ilmu
Semangat membagi
ilmu yang diperoleh selama mengikuti KPK 2 diperlihatkan Korwil Perumnas I
& BSK St. Bernadeth, Sirilus Sirjoni Simangunsong. Pak
Sirjoni langsung tancap gas. Hanya tiga bulan usai kegiatan KPK 2, Pak Sirjoni
sudah selesai menyusun rencana Rekoleksi Keluarga Wilayah St. Bernadeth pada
Mei 2020 di Wisma SVD, Cisarua, Bogor, dengan target peserta 75 pasutri. “Masih ada
program lain yang kini tengah dirancang di Wilayah Bernadeth, yang tergerak
oleh semangat KPK,” kata Pak Anton Srimulyono, mewakili
Pak Sirjoni.
Semangat berbagi
ilmu juga ditunjukkan Bung Meke dan Mbak Oliv. Pasutri ini sudah memanfaatkan ilmu yang
diperoleh di KPK untuk membantu sejumlah teman mereka. “Saya sudah
memanfaatkannya untuk teman-teman satu tongkrongan,” ujar Bung Meke.
Pasutri Robertus Sumadia-Sylvia Sri Redjeki dari Lingkungan St. Matheus
3 justru langsung menghadapi persoalan pelik pasca-mengikuti KPK 2. Persoalan
itu menyangkut rumah tangga umat di Lingkungan mereka yang terancam keutuhannya, setelah
perselingkuhan yang dilakukan suami terungkap. Namun Pak Madia dan Bu Sylvia mengaku
masih kesulitan, karena keluarga tersebut belum terbuka. Seperti kata Pak
Anastasius Wahyuhadi, mungkin saja pasutri tersebut belum nyaman untuk curhat,
karena belum sepenuhnya trust.
Cerita berbeda
disampaikan pasutri Vincentius Simangunsong-Ester Sondang Pakpahan dari
Lingkungan St. Bernadeth 5. Pak Vinsen dan Bu Ester mengaku, ilmu yang didapat
di KPK baru dipergunakan untuk kepentingan internal keluarga. “Saya ini kan
masih berobat jalan. Boro-boro
mengobati yang lain. Istri saya saja, belum saya obati,” canda Pak Vinsen,
merendah.
Apapun cerita dan pengalaman para pasutri setelah mengikuti KPK 2, hal yang paling penting, kata Romo Ansel, agar suami - istri selalu menjaga kesetiaan, "Keluarga yang diberkati adalah keluarga dimana suami setia kepada istri, Dan juga istri setia kepada suami," pesan Romo Ansel, mengakhiri peneguhannya.
(nn).
