Diberdayakan oleh Blogger.

ST. MIKAEL - PAROKI KRANJI - BEKASI BARAT

Kamis, 28 November 2019

Wajah Kolonial di Alam Milenial

1 comments

Membangun komunikasi beda etnis dan kultur pada era sebelum tahun 1990-an dirasakan sulit. Karena masih kuatnya prasangka etnis. Etnis tertentu dilekatkan dengan stempel perangai yang kasar, beringas, dan sangar. Ada pula etnis yang beruntung disemat dengan label lemah lembut, santun, dan ramah. Maka, ada petuah bernada diskriminatif kepada anak gadis, jangan berpacaran dengan pemuda dari suku itu, orangnya kasar-kasar, tidak tahu tata krama. Ada semacam benturan budaya, yang kerap menimbulkan gesekan antarpribadi berbeda etnis dan kultur.

Namun benturan seperti itu lambat laun sirna ketika mulai intens berkomunikasi dan erat bergaul. Yang terjadi kemudian, terbangun saling pengertian antara kedua belah pihak berbeda etnis dan budaya tadi. Maka di kota-kota besar seperti Bekasi terbentuklah komunitas-komunitas pluralis dan multikulturalis yang harmonis dan saling menghargai. Ada ruang hidup bersama yang tercipta. Akibat lanjutannya, perjodohan  lintas etnis dan kultur pun tidak lagi jadi soal. Prasangka etnis tadi muncul, lebih karena kurangnya informasi. Karena, saat itu informasi tidak semudah sekarang, yang mampu menjangkau rumah-rumah di pelosok nusantara.

Namun ketika itu yang terjaga dengan baik adalah tingkat kepatuhan anak kepada orangtua. Anak-anak begitu patuh terhadap orangtua. Apa yang dikatakan orangtua dituruti tanpa banyak bertanya, apalagi membantah. Kenapa anak-anak begitu patuh terhadap orangtua? Karena, orangtua dipandang sebagai salah satu sumber pengetahuan. Orangtua dianggap banyak tahu, selain guru di sekolah.

Tentu saja, sangat berbeda dengan anak-anak di zaman milenial. Sumber pengetahuan mereka banyak. Selain orangtua dan guru, yang paling mudah mereka akses adalah ponsel yang ada dalam genggaman mereka. Ponsel menjadi ‘orangtua’ yang ramah dan sabar bagi anak-anak milenial. Di ponsel tersedia jawaban atas berbagai pertanyaan mereka. Mereka telah menemukan solusi atas banyak persoalan mereka pada ponsel, bukan lagi orangtua. Selain itu mereka dapat terhindar dari risiko ditegur atau dimarahi orangtua bila pertanyaan mereka melampui batas kewajaran dan kesantunan. Akibatnya, orangtua kurang didengar lagi nasihatnya, bahkan ada pula yang tak digubris.

Pengalaman seperti ini pula yang diceritakan oleh sejumlah pasutri  dalam acara silaturahmi peserta Kursus Pastoral Keluarga (KPK) di gedung GKP Lantai 2, Minggu (24/11). Pasutri Robertus Sumadia-Sylvia Sri Redjeki misalnya mengaku agak sulit membangun komunikasi dengan anak mereka. “Yang menjadi masalah bagi saya, cara pandang. Kalau ada masalah itu, diberi tahu itu, beda sekali dalam cara melihat persoalan. Kalau diberi pandangan, dijawab Bapak ini, itu jaman dulu. Kalau ngomong seperti itu, sakit hati juga,” kata Pak Madia, umat dari Lingkungan St. Mateus 3.

Tak berbeda dengan Pak Madia,  pasutri Rb Santo-Mieke dari Lingkungan St. Antonius Padua 5 juga masih sulit menemukan model komunikasi yang baik dengan anak. “Kalau dia pulang kuliah, kalau ditanya, ‘De, kamu kuliah apa hari ini?’ Dijawab, ‘ah, gak usah ditanya-tanya.’ Padahal orangtua ingin tau,” ujar Pak Santo.

Pak Santo mengaku, sebagai oranngtua, dia dan istrinya masih banyak kekurangan dalam berkomunikasi dengan anak. Anak-anak sekarang itu sudah canggih, zaman milenial, sementara orangtua masih menggunakan pola pendekatan lama.

Kesulitan membangun komunikasi pada generasi beda zaman juga diakui Profesor Richardus Eko Indrajit pada saat menjadi pemateri dalam kegiatan KPK di Paroki Kranji, Minggu (4/8). Menurut Profesor Eko, cara terbaik untuk mendekati dan berkomunikasi dengan anak-anak milenial adalah dengan menggunakan frekuensi mereka. Artinya, orangtua tidak lagi menggunakan cara dan gaya berkomunikasi lama, tetapi disesuaikan dengan perkembangan zaman, terutama kemajuan teknologi informasi yang diakrabi sang anak.


Pesan Romo Ansel

Romo Anselmus Selvus Wege, SVD yang memberikan peneguhan kepada para pasutri berpesan, agar orangtua menjauhkan gaya pendidikan kolonial seperti jangan, tidak boleh, dan harus, dalam mendidik anak-anak zaman milenial. Kalau itu yang terjadi, anak-anak sulit berkembang. “Anak-anak zaman ini perlu didekati dengan lemah lembut, dengan kesabaran, dan kejujuran untuk minta maaf. Dan banyak orangtua susah minta maaf. Itu persoalannya,” kata Romo Ansel.

Menurut Romo Ansel, pengalaman konkret dalam rumah, itu yang menentukan bagaimana sikap dan perilaku anak-anak kita ke depan. Anak-anak perlu mendapat sentuhan fisik dan emosional, bahkan komunikasi dengan anak dibangun sejak dalam kandungan. Menjadi orangtua Katolik yang baik mesti sungguh-sungguh diperhatikan. Keluarga Katolik yang baik adalah keluarga yang menyediakan waktu untuk berkomunikasi dengan sesama anggota keluarga dan Tuhan.

Seperti pesan Romo Ansel tadi, orangtua Katolik jangan lagi menghadirkan wajah kolonial dalam mendidik anak-anak di alam milenial ini. Dalam membangun komunikasi dengan anak di zaman milenial, yang perlu dikembangkan adalah pola komunikasi dialogis. Orangtua dan anak berdialog. Anak-anak menjadi mitra dan teman diskusi orangtua, bukan lagi dijadikan pendengar yang santun dan patuh. (nn)          

1 komentar:

  1. Trimakasih, tulisan ini mengingatkan kita orang tua supaya lebih banyak belajardsn memahami tentang dunia orang muda yg sungguh berbeda.

    BalasHapus

Created with by Rio Satriyo