Namun benturan
seperti itu lambat laun sirna ketika mulai intens berkomunikasi dan erat
bergaul. Yang terjadi kemudian, terbangun saling pengertian antara kedua belah
pihak berbeda etnis dan budaya tadi. Maka di kota-kota besar seperti Bekasi terbentuklah
komunitas-komunitas pluralis dan multikulturalis yang harmonis dan saling
menghargai. Ada ruang hidup bersama yang tercipta. Akibat lanjutannya, perjodohan lintas etnis dan kultur pun tidak lagi jadi
soal. Prasangka etnis tadi muncul, lebih karena kurangnya informasi. Karena, saat
itu informasi tidak semudah sekarang, yang mampu menjangkau rumah-rumah di
pelosok nusantara.
Namun ketika itu
yang terjaga dengan baik adalah tingkat kepatuhan anak kepada orangtua. Anak-anak
begitu patuh terhadap orangtua. Apa yang dikatakan orangtua dituruti tanpa
banyak bertanya, apalagi membantah. Kenapa anak-anak begitu patuh terhadap
orangtua? Karena, orangtua dipandang sebagai salah satu sumber pengetahuan.
Orangtua dianggap banyak tahu, selain guru di sekolah.
Tentu saja, sangat
berbeda dengan anak-anak di zaman milenial. Sumber pengetahuan mereka banyak.
Selain orangtua dan guru, yang paling mudah mereka akses adalah ponsel yang ada
dalam genggaman mereka. Ponsel menjadi ‘orangtua’ yang ramah dan sabar bagi
anak-anak milenial. Di ponsel tersedia jawaban atas berbagai pertanyaan mereka.
Mereka telah menemukan solusi atas banyak persoalan mereka pada ponsel, bukan
lagi orangtua. Selain itu mereka dapat terhindar dari risiko ditegur atau
dimarahi orangtua bila pertanyaan mereka melampui batas kewajaran dan
kesantunan. Akibatnya, orangtua kurang didengar lagi nasihatnya, bahkan ada
pula yang tak digubris.
Pengalaman seperti
ini pula yang diceritakan oleh sejumlah pasutri dalam acara silaturahmi peserta Kursus
Pastoral Keluarga (KPK) di gedung GKP Lantai 2, Minggu (24/11). Pasutri Robertus
Sumadia-Sylvia Sri Redjeki misalnya mengaku agak sulit membangun komunikasi
dengan anak mereka. “Yang menjadi masalah bagi saya, cara pandang. Kalau ada
masalah itu, diberi tahu itu, beda sekali dalam cara melihat persoalan. Kalau
diberi pandangan, dijawab Bapak ini, itu jaman dulu. Kalau ngomong seperti itu,
sakit hati juga,” kata Pak Madia, umat dari Lingkungan St. Mateus 3.
Tak berbeda dengan Pak
Madia, pasutri Rb Santo-Mieke dari
Lingkungan St. Antonius Padua 5 juga masih sulit menemukan model komunikasi yang
baik dengan anak. “Kalau dia pulang kuliah, kalau ditanya, ‘De, kamu kuliah apa
hari ini?’ Dijawab, ‘ah, gak usah ditanya-tanya.’ Padahal orangtua ingin tau,” ujar
Pak Santo.
Pak Santo mengaku,
sebagai oranngtua, dia dan istrinya masih banyak kekurangan dalam berkomunikasi
dengan anak. Anak-anak sekarang itu sudah canggih, zaman milenial, sementara
orangtua masih menggunakan pola pendekatan lama.
Kesulitan membangun
komunikasi pada generasi beda zaman juga diakui Profesor Richardus Eko Indrajit
pada saat menjadi pemateri dalam kegiatan KPK di Paroki Kranji, Minggu (4/8).
Menurut Profesor Eko, cara terbaik untuk mendekati dan berkomunikasi dengan
anak-anak milenial adalah dengan menggunakan frekuensi mereka. Artinya,
orangtua tidak lagi menggunakan cara dan gaya berkomunikasi lama, tetapi
disesuaikan dengan perkembangan zaman, terutama kemajuan teknologi informasi yang
diakrabi sang anak.
Pesan Romo Ansel
Romo Anselmus
Selvus Wege, SVD yang memberikan peneguhan kepada para pasutri berpesan, agar
orangtua menjauhkan gaya pendidikan kolonial seperti jangan, tidak boleh, dan
harus, dalam mendidik anak-anak zaman milenial. Kalau itu yang terjadi,
anak-anak sulit berkembang. “Anak-anak zaman ini perlu didekati dengan lemah
lembut, dengan kesabaran, dan kejujuran untuk minta maaf. Dan banyak orangtua
susah minta maaf. Itu persoalannya,” kata Romo Ansel.
Menurut Romo Ansel,
pengalaman konkret dalam rumah, itu yang menentukan bagaimana sikap dan
perilaku anak-anak kita ke depan. Anak-anak perlu mendapat sentuhan fisik dan
emosional, bahkan komunikasi dengan anak dibangun sejak dalam kandungan. Menjadi
orangtua Katolik yang baik mesti sungguh-sungguh diperhatikan. Keluarga Katolik
yang baik adalah keluarga yang menyediakan waktu untuk berkomunikasi dengan
sesama anggota keluarga dan Tuhan.
Seperti pesan Romo
Ansel tadi, orangtua Katolik jangan lagi menghadirkan wajah kolonial dalam
mendidik anak-anak di alam milenial ini. Dalam membangun komunikasi dengan anak
di zaman milenial, yang perlu dikembangkan adalah pola komunikasi dialogis.
Orangtua dan anak berdialog. Anak-anak menjadi mitra dan teman diskusi
orangtua, bukan lagi dijadikan pendengar yang santun dan patuh. (nn)





Trimakasih, tulisan ini mengingatkan kita orang tua supaya lebih banyak belajardsn memahami tentang dunia orang muda yg sungguh berbeda.
BalasHapus